Salam Dari Hujan


Lamunanku tertuju pada balik jendela. Dari cahaya yang masih mampu memantul seolah menuntun mata melihat tetes hujan dengan rintik lirih kesakitan. Serupa mesin waktu, memaksa pikiran melewati lorong yang entah dimana tujuannya. Sampai sadar aku bertemu seseorang. Kusapa dia Lalu, dia berbalik menyapa Kenangan. Mungkin karena mengganggapku sebagai orang yang masih tinggal.
Dia berbeda sekarang, matanya layu, mukanya pucat, hanya senyumannya saja yang masih kuingat. Aku ingin bertanya, mungkin dia juga, tapi lidah kami sama-sama kelu. Akhirnya hanya lewat tatapan kami bercerita.
Dia tahu baik-baik apa yang kusampaikan. Saat dulu itu bukan tentang  kesedihan yang menangisi air mata, juga bukan tentang canda yang menertawakan tawa, hanya belum bisa dibawa takdir jauh-jauh. Bahkan sampai lelah ia menuntun kita. Jadi semua ini salah siapa? Salahku? Mungkin saja.

Aroma pekat menembus indera. Hangat sayupnya mengalir mengikuti saraf-saraf yang mengular, membawa alam sadar kembali ke dimensinya. Dalam pikiran yang kembali terjaga, mari bermain logika sekali lagi. Seputar pertanyaan yang jawabannya hanya ada diam. Bicara tentang sekarang, tak guna ada sesal. Semua yang terlambat memang akan kecewa kemudian pulang.

Aku mundur perlahan, kau maju pelan-pelan. Ini cukup dan pulanglah segera. Ke rumah yang ramai penghuninya. Agar kau tak kesepian. Jangan berpikir aku bajingan, hati ini juga pernah menyepi, saat menyentuh duka yang kau artikan sendiri. Bahkan sampai benar-benar tak peduli berapa banyak orang yang akan kembali mengisi.
Mulai sekarang, belajarlah membangun fondasi hunian hanya untuk yang menjadi masa depanmu saja. Bangunlah sampai penuh, sampai bisa di tempati, jangan hanya setengah kemudian bosan lalu pindah, atau kau akan menyesal sekali lagi.

Dan untuk pertemuan singkat tadi, anggap saja hanya sebuah salam dari hujan.