Kau memandangku begitu dalam tanpa kata-kata, terlalu hening
sampai suara nafasmu bisa ku dengar.
Tak butuh waktu lama berada dalam kecanggungan itu karena kurang
dari 6 detik kau telah meraih tanganku, menggenggamnya erat tanpa melepaskan
pandanganmu dari mataku. Semakin erat…
Kau mengajakku berlari seolah kau tau aku tak bisa menolaknya. Kita mulai
berlari, tapi aku berlari dalam kebingungan. “Ada apa ini?” pertanyaan itu
berputar mengelilingi otakku sedari tadi, syaraf-syarafnya berusaha mentransfernya
kemulutku. Tidak, hanya sampai ke kerongkongan, lidahku tak mampu mengataknnya.
Baiklah aku diam, lagipula itu yang selalu kulakukan.
Aku berani bertaruh kau bisa membaca fikiranku. Dalam perjalanan
kau katakan semuanya. Kau bilang akan mengajakku ke sebuah kuil di dalam hutan,
kita akan hidup disana berdua tanpa khawatir ada orang yang mengusik kita,
mereka tak akan menemukan kita. Aku berfikir itu akan sangat menyenangkan,
seperti mimpi dan kaulah yang menjadikannya nyata.
Kita berlari semakin cepat, entah sudah berapa jauh, tapi bukankah
ini terlalu jauh?
Aku lelah..
Tapi keyakinanku semakin besar padamu. Disetiap aku ingin
menyerah, kau (masih) menggenggam tanganku semakin erat, seperti energi dari
tanganmu perlahan mengalir melewati nadiku, dan itu memberiku cukup kekuatan
untuk terus berlari, begitu seterusnya..
Kini kita telah berada di mulut hutan, kau menyuruhku
berbalik, ku kedipkan mataku beberapa kali untuk memastikan apa yang ku lihat,
tepat di depanku adalah sebuah jurang, sangat dalam.. di sekelilingnya ada batu
yang amat tinggi,entahlah.. aku tak yakin itu karang. Sekarang aku mengerti
maksudmu, sangat mustahil orang bisa menemukan kita disini. Aku sendiri tak
yakin bisa kembali atau tidak. Aku lupa jalan pulang..
Kau beri aku penawaran, ingin melanjutkan perjalanan atau
istirahat. Sekali lagi kau menggenggam tanganku erat, aku memilih kembali
berlari.
Seperti dalam dongeng putri dan pangeran kamipun sampai di
kuil sederhana, berharap sejuta kedamaian ada disana.
Tapi entah kenapa kali ini berbeda,aku khawatir, dan
genggaman tanganmu tak dapat menyembunyikannya. Kau beralih memelukku,
memberiku ketenangan semampumu. Aku percaya padamu..
Kicauan burung terdengar nyaring, bau embun begitu menyengat
menembus rongga hidungku. Disampingku ada seseorang yang masih tertidur pulas,
pria yang sangat ku kenal, seorang pria bodoh yang dengan begitu bodohnya
menghampiriku, mengenalkanku dengan hal konyol bernama cinta. Ya, aku
menyayangi segala kebodohannya. Aku.. mencintainya.
Ku buka jendela kuil, berharap bisa mendapat kesejukan pagi
di tempat yang baru ku kenal ini.
Tapi mataku seakan tak bisa terima. Bukan hanya mata, aku.. semakin
takut.
Aku bahkan tak bisa melihat matahari, cahayanyapun seolah
enggan menyentuh ranting pohon yang basah itu. Karang yang menjulang tinggi
mengelilingi hutan ini terlalu egois
untuk berbagi kehangatan.
Setelah beberapa hari disini, ketakutanku semakin bertambah,
kuputuskan untuk kembali, kembali pada kehidupan sebelum ini. Dimana ada
kebisingan orang-orang, kakacauan disetiap sudut kota, dan segala bentuk
masalah lainnya.
Tapi memang itulah yang seharusnya dijalani, kita mencari
kedamaian, tapi kita melupakan kebahagiaan.
Aku selalu ingin hidup bersamamu, tapi bukan seperti ini
yang aku harapkan.
Kau melupakan kehidupanmu,
Kau melupakan kebahagiaanku..

0 komentar:
Posting Komentar