Dari awal kau telah menempati peti istimewa itu. Peti yang
berdinding kesabaran, cinta dan kasih sayang. peti itu lalu kuletakkan di
tempat yang tak kalah istimewa bernama hati. Tapi kurasa semakin lama kau
merasa semakin tak nyaman berada di dalamnya. Kau seperti ingin keluar tapi tak
mau jika harus merusak engselnya. Meski suaramu tak dapat menembus dinding peti itu, aku tetap bisa
mendengar kau berteriak di dalam. “keluarkan aku!” ya, itulah yang kudengar
Aku tak sanggup jika aku yang harus membukanya. Aku belum
siap jika harus kehilanganmu, lebih tepatnya ‘tak pernah siap’.
Sayang, aku tau kau menginginkan peti yang lebih indah itu. Maka
keluarlah, aku tak pernah mengunci peti ini, aku hanya tak cukup kuat untuk
membukanya. Tolong jangan tunggu atau paksa aku mengeluarkanmu, karna aku tak
sanggup.
Jujur saja, jika kau keluar, aku pasti akan sangat kesakitan,
petiku akan kosong. Dan mungkin akan tetap kosong untuk waktu yang lama setelah
kau tinggalkan. Karna sangat sulit untuk mengikhlaskan orang lain mengisinya. Aku
hanya ingin kamu yang berada didalam. Bukan orang lain.
Tapi sayang, jika memang kau benar benar ingin pindah,
baiklah.. aku tak ingin menahanmu. Aku tak ingin jika kau tak bahagia hidup di
dalamnya, karna yang paling ingin kujaga adalah kebahagiaanmu.
Akan kucoba untuk tegar. Sesakit apapun aku akan menahannya.
Kejarlah peti yang kau ingikan itu, dapatkanlah!
Tapi aku mohon, jangan pernah kau membenci petiku ini, yang
mungkin telah membuatmu sesak berada di dalam. Walaubagaimanapun kau pernah
memasukinya, pernah merasakan kenyamanannya. Jadi jangan lupakan. :’)
Jika kau telah berhasil keluar dan mendapatkan kebahagiaanmu disana aku akan
ikut senang meski hatiku mungkin tak akan berhenti menangis.

0 komentar:
Posting Komentar