Hatiku Terlalu Mudah Melambung
Sir, I'm a bit nervous
A New Story Named Present
Mozart menumbuhkan bakatnya di usia 5 tahun, membuat minuet
kecil pertamanya.
Tiger woods sudah bisa mengayunkan stik golf sebelum usia 2
tahun.
Picasso menyadari bakat melukisnya di usia 9 tahun.
Aku menyadari bahwa aku menyukaimu hanya dalam beberapa
minggu. Tidakkah aku jenius?
Memang tak harus memerlukan banyak waktu, sayang. Hanya
perlu sedikit membuka hati.
Meski mengenalmu sudah cukup lama, tapi saat itu hati ini
benar-benar masih milik seseorang, kukunci rapat sampai tak ada yang bisa
mengusiknya termasuk kamu.
Sampai tiba saat kunci itu berkarat dan rusak. Dan semua
yang ada didalamnya harus menghilang..
ah sudahlah, aku sudah melupakan rasa sakitnya.
Dari kamu aku telah belajar banyak. Bagaimana caranya
menjadi diri sendiri, bagaimana cara bahagia, dan bagaimana cara menyayangi
dengan benar. Dan akupun mengerti dalam waktu singkat. Aku memang jenius.
Sayang, aku ingin berterimakasih. Atas semua usahamu yang
membuat aku luluh. Yang membuat aku sadar bahwa aku memang pantas bahagia.
Terimakasih telah sabar menunggu. Terimakasih telah menjadi dirimu yang
benar-benar apa adanya dihadapanku. Tetaplah seperti itu.
Aku tak mau banyak menuntut. Untuk sekarang dan seterusnya
aku cuma ingin kamu percaya. Hatiku kecil dan hanya muat untuk 1 orang. Dan
untuk saat ini (semoga seterusnya) hanya ada kamu.
Salam Dari Hujan
Lamunanku tertuju pada balik jendela. Dari cahaya yang masih mampu memantul seolah menuntun mata melihat tetes hujan dengan rintik lirih kesakitan. Serupa mesin waktu, memaksa pikiran melewati lorong yang entah dimana tujuannya. Sampai sadar aku bertemu seseorang. Kusapa dia Lalu, dia berbalik menyapa Kenangan. Mungkin karena mengganggapku sebagai orang yang masih tinggal.
Dia berbeda sekarang, matanya layu, mukanya pucat, hanya senyumannya saja yang masih kuingat. Aku ingin bertanya, mungkin dia juga, tapi lidah kami sama-sama kelu. Akhirnya hanya lewat tatapan kami bercerita.
Dia tahu baik-baik apa yang kusampaikan. Saat dulu itu bukan tentang kesedihan yang menangisi air mata, juga bukan tentang canda yang menertawakan tawa, hanya belum bisa dibawa takdir jauh-jauh. Bahkan sampai lelah ia menuntun kita. Jadi semua ini salah siapa? Salahku? Mungkin saja.
Aroma pekat menembus indera. Hangat sayupnya mengalir mengikuti saraf-saraf yang mengular, membawa alam sadar kembali ke dimensinya. Dalam pikiran yang kembali terjaga, mari bermain logika sekali lagi. Seputar pertanyaan yang jawabannya hanya ada diam. Bicara tentang sekarang, tak guna ada sesal. Semua yang terlambat memang akan kecewa kemudian pulang.
Aku mundur perlahan, kau maju pelan-pelan. Ini cukup dan pulanglah segera. Ke rumah yang ramai penghuninya. Agar kau tak kesepian. Jangan berpikir aku bajingan, hati ini juga pernah menyepi, saat menyentuh duka yang kau artikan sendiri. Bahkan sampai benar-benar tak peduli berapa banyak orang yang akan kembali mengisi.
Mulai sekarang, belajarlah membangun fondasi hunian hanya untuk yang menjadi masa depanmu saja. Bangunlah sampai penuh, sampai bisa di tempati, jangan hanya setengah kemudian bosan lalu pindah, atau kau akan menyesal sekali lagi.
Dan untuk pertemuan singkat tadi, anggap saja hanya sebuah salam dari hujan.
Di February
Kini, kesedihan telah menemui jalannya.
Ketika aku harus dihadapkan pada kenyataan yang benar-benar
menyakitkan. Ketika kau katakan bahwa semua ini tak akan berhasil, sungguh
rasanya seperti burung yang terjatuh dari ujung tiang, membuatnya pincang dan
tak berdaya. Aku tak menyangka bisa seterpuruk ini, aku tak menyangka ternyata
bisa sesakit ini. Aku bukan sedih, hanya belum bisa menghargai takdir.
Aku mengaku kuat, dan dengan lantang berjanji tak akan
menangis, tapi aku ingkar. Air mata ini tak mau berhenti mengalir sampai
membawaku pada sebuah mimpi yang membuat pikiran ini bertambah kacau. Mimpi tentangmu.
Dan mengapa aku harus terbangun, kembali mengingat hal yang yang
tak pernah aku alami sebelumnya. Kehilangan seseorang ketika perasaan ini sudah
terlalu dalam. Ini sulit..
Kemarin..
Kau adalah alasan mengapa aku tersenyum,
Kau adalah alasan mengapa aku tertawa,
Kau adalah alasan mengapa aku bahagia,
Tapi sekarang, apa aku masih boleh menjadikanmu alasan untuk
tetap tegar?
Bukan bermaksud mempertahankan perasaan ini, aku hanya tak
ingin membuangnya. Terlalu berharga semua hal yang pernah kita lewati untuk
dilupakan. Aku tak cukup kuat.
Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja, aku bisa cari
kebahagiaanku sendiri. Aku sudah ikhlas melepasmu jika ini membuatmu lega. Kau harus
bahagia ya! Anggap saja ini permintaanku yang belum sempat aku minta dulu. Untuk
yang ini, kau harus kabulkan. :)
Maafkan aku jika selama ini telah membuatmu kecewa, aku tak
cukup pintar membahagiakanmu. Aku harap kau akan menemukan orang yang jauh
lebih baik dariku. Ya, aku percaya dia orang yang baik. Kejarlah, dia sudah
menunggumu. Kalian terlihat cocok satu sama lain.
Terimakasih karna telah memberiku kesempatan bisa
memilikimu, bisa merasakan hangatnya pelukanmu, dan genggaman tanganmu yang
selalu bisa menenangkanku. Terimakasih.. :’)
Aku hanya butuh proses untuk menerima semua ini. aku janji
tak akan lama. Tapi bolehkah aku berdiri disini, membawa bayanganmu yang selalu
bisa membuatku semangat?
Bolehkah aku memandangmu dari jauh seperti yang biasa
kulakukan dulu sebelum kita bersama?
Malam Ini
Selamat malam..
Kau tau? Disini malamnya terasa lebih gelap, hujan deras juga sepertinya ingin mengubah malam ini menjadi semakin mengerikan.
Sudah empat hari ini sayang, setiap malam pasti mati listrik :(
Malam ini aku ditemani sebatang lilin kecil, entah mengapa situasinya membuatku menjadi sangat merindukanmu. Mungkin karena aku sedang mengeluh pada petugas penerangannya, aku jadi ingat kamu, aku kangen.. Malam ini kau sedang apa? kau sehat kan? :')
Sayang, andai malam ini kau ada disini, pasti dinginnya tak berani menyentuhku.
Kau dimana? Apa kau kedinginan juga?
Semoga tidak..
Sayang.. dulu kamu pernah bilang ingin bekerja disana kan? Itu impianmu kan?
Semoga berhasil yaa.. :)
Kau harus berhasil masuk kesana dan bekerjalah baik-baik, pastikan jangan sampai mati listrik lagi disini :)
Aku selalu mendoakanmu.
Kejar mimpimu ya.. SEMANGAT!! :) :)
Kau tau? Disini malamnya terasa lebih gelap, hujan deras juga sepertinya ingin mengubah malam ini menjadi semakin mengerikan.
Sudah empat hari ini sayang, setiap malam pasti mati listrik :(
Malam ini aku ditemani sebatang lilin kecil, entah mengapa situasinya membuatku menjadi sangat merindukanmu. Mungkin karena aku sedang mengeluh pada petugas penerangannya, aku jadi ingat kamu, aku kangen.. Malam ini kau sedang apa? kau sehat kan? :')
Sayang, andai malam ini kau ada disini, pasti dinginnya tak berani menyentuhku.
Kau dimana? Apa kau kedinginan juga?
Semoga tidak..
Sayang.. dulu kamu pernah bilang ingin bekerja disana kan? Itu impianmu kan?
Semoga berhasil yaa.. :)
Kau harus berhasil masuk kesana dan bekerjalah baik-baik, pastikan jangan sampai mati listrik lagi disini :)
Aku selalu mendoakanmu.
Kejar mimpimu ya.. SEMANGAT!! :) :)
Peti Istimewa
Dari awal kau telah menempati peti istimewa itu. Peti yang
berdinding kesabaran, cinta dan kasih sayang. peti itu lalu kuletakkan di
tempat yang tak kalah istimewa bernama hati. Tapi kurasa semakin lama kau
merasa semakin tak nyaman berada di dalamnya. Kau seperti ingin keluar tapi tak
mau jika harus merusak engselnya. Meski suaramu tak dapat menembus dinding peti itu, aku tetap bisa
mendengar kau berteriak di dalam. “keluarkan aku!” ya, itulah yang kudengar
Aku tak sanggup jika aku yang harus membukanya. Aku belum
siap jika harus kehilanganmu, lebih tepatnya ‘tak pernah siap’.
Sayang, aku tau kau menginginkan peti yang lebih indah itu. Maka
keluarlah, aku tak pernah mengunci peti ini, aku hanya tak cukup kuat untuk
membukanya. Tolong jangan tunggu atau paksa aku mengeluarkanmu, karna aku tak
sanggup.
Jujur saja, jika kau keluar, aku pasti akan sangat kesakitan,
petiku akan kosong. Dan mungkin akan tetap kosong untuk waktu yang lama setelah
kau tinggalkan. Karna sangat sulit untuk mengikhlaskan orang lain mengisinya. Aku
hanya ingin kamu yang berada didalam. Bukan orang lain.
Tapi sayang, jika memang kau benar benar ingin pindah,
baiklah.. aku tak ingin menahanmu. Aku tak ingin jika kau tak bahagia hidup di
dalamnya, karna yang paling ingin kujaga adalah kebahagiaanmu.
Akan kucoba untuk tegar. Sesakit apapun aku akan menahannya.
Kejarlah peti yang kau ingikan itu, dapatkanlah!
Tapi aku mohon, jangan pernah kau membenci petiku ini, yang
mungkin telah membuatmu sesak berada di dalam. Walaubagaimanapun kau pernah
memasukinya, pernah merasakan kenyamanannya. Jadi jangan lupakan. :’)
Jika kau telah berhasil keluar dan mendapatkan kebahagiaanmu disana aku akan
ikut senang meski hatiku mungkin tak akan berhenti menangis.
Jangan Benci Aku
Aku mencintaimu, tapi selalu gagal membahagiakanmu.
Aku menyayangimu, tapi untuk selalu bisa berada disampingmu ketika kamu butuh,aku
tak sanggup.
Aku merindukanmu, tapi raga ini tak pernah mampu memelukmu
ketika kamu merasakan hal yang sama.
Mungkin kamu bosan mendengar kata maafku, tapi kumohon
kepercayaanmu , aku selalu tulus akan itu.Dan jangan lagi merasa kamu adalah orang
paling bodoh. Karena aku lebih bodoh darimu. Buktinya untuk mengembalikan
senyummupun aku selalu gagal.
Maaf jika aku hanya bisa memperburuk keadaan. Tapi aku
mencoba untuk tetap disini, aku masih ingin disini, tak kemana-mana, karna aku masih
berharap akulah tampat yang kau cari jika suatu saat kau membutuhkan bahu untuk
bersandar dan mencari ruang untuk bercerita
Hanya perlu kamu tau, disetiap kesalahnku sama sekali tak
ada yang kuniati, tak pernah terbesit seperjuta katapun untuk membuatmu sedih. Kamu bahkan sudah terlanjur memiliki ruang
yang paling luas dan terbaik di bilik hati ini, yang membuat aku semakin
khawatir kehilanganmu. Membuatku berfikir
akan seterpuruk apa bila jatuh. Aku takut, tapi aku juga tak mau berjuang untuk
mengurangi sedikitpun dari rasa ini, rasa yang sudah tak bisa kau tawar lagi, rasa
yang lebih agung dari cinta, lebih dalam dari sayang, dan lebih menjerat dari
rindu.
kupanggil namamu lirih lewat sebuah doa, membiarkan malaikat
meniupkannya bersama desiran angin kasat mata untuk menyampaikannya padamu. Bisa
kau dengar aku?
Kadang aku menghayalkanmu, memikirkan hal baik yang dapat
kita lakukan teryata menjadi momen terbaikku saat menikmati secangkir kopi yang
ku racik sendiri. Aku berharap kau adalah cangkir kopiku, aku berharap bisa
meracikannya untukmu dan aku berharap kita selalu bisa menikmatinya bersama di
setiap sore di masa nanti.
Kamu adalah sebab disetiap
akanku, kamu adalah untuk disetiap
dariku, kamu adalah karena disetiap makaku, dan kamu adalah alasan di setiap
tujuanku.
Jika kamu masih menyayangiku, tolong katakan, karena aku
membutuhkannya.
Kalimat ‘aku menyayangimu’ tak sesederhana keinginanku untuk
kau bisa mengucapkannya padaku. Setidaknya kalimat itu bisa mengurangi
kecemburuan yang bahkan tak berani kuungkapkan. Setidaknya kalimat itu bisa
membuktikan bahwa kau tak membenciku.
Sekali lagi maaf, untuk semua hal bodoh yang kulakukan,
untuk semua kesedihan yang tak bisa kuubah menjadi tawa, dan untuk setiap
kekecewaan yang tak sengaja tercipta.
Tolong jangan benci aku..
Meskipun dunia menyalahkanku,
Tolong jangan benci aku..
Bukan Ini
Kau memandangku begitu dalam tanpa kata-kata, terlalu hening
sampai suara nafasmu bisa ku dengar.
Tak butuh waktu lama berada dalam kecanggungan itu karena kurang
dari 6 detik kau telah meraih tanganku, menggenggamnya erat tanpa melepaskan
pandanganmu dari mataku. Semakin erat…
Kau mengajakku berlari seolah kau tau aku tak bisa menolaknya. Kita mulai
berlari, tapi aku berlari dalam kebingungan. “Ada apa ini?” pertanyaan itu
berputar mengelilingi otakku sedari tadi, syaraf-syarafnya berusaha mentransfernya
kemulutku. Tidak, hanya sampai ke kerongkongan, lidahku tak mampu mengataknnya.
Baiklah aku diam, lagipula itu yang selalu kulakukan.
Aku berani bertaruh kau bisa membaca fikiranku. Dalam perjalanan
kau katakan semuanya. Kau bilang akan mengajakku ke sebuah kuil di dalam hutan,
kita akan hidup disana berdua tanpa khawatir ada orang yang mengusik kita,
mereka tak akan menemukan kita. Aku berfikir itu akan sangat menyenangkan,
seperti mimpi dan kaulah yang menjadikannya nyata.
Kita berlari semakin cepat, entah sudah berapa jauh, tapi bukankah
ini terlalu jauh?
Aku lelah..
Tapi keyakinanku semakin besar padamu. Disetiap aku ingin
menyerah, kau (masih) menggenggam tanganku semakin erat, seperti energi dari
tanganmu perlahan mengalir melewati nadiku, dan itu memberiku cukup kekuatan
untuk terus berlari, begitu seterusnya..
Kini kita telah berada di mulut hutan, kau menyuruhku
berbalik, ku kedipkan mataku beberapa kali untuk memastikan apa yang ku lihat,
tepat di depanku adalah sebuah jurang, sangat dalam.. di sekelilingnya ada batu
yang amat tinggi,entahlah.. aku tak yakin itu karang. Sekarang aku mengerti
maksudmu, sangat mustahil orang bisa menemukan kita disini. Aku sendiri tak
yakin bisa kembali atau tidak. Aku lupa jalan pulang..
Kau beri aku penawaran, ingin melanjutkan perjalanan atau
istirahat. Sekali lagi kau menggenggam tanganku erat, aku memilih kembali
berlari.
Seperti dalam dongeng putri dan pangeran kamipun sampai di
kuil sederhana, berharap sejuta kedamaian ada disana.
Tapi entah kenapa kali ini berbeda,aku khawatir, dan
genggaman tanganmu tak dapat menyembunyikannya. Kau beralih memelukku,
memberiku ketenangan semampumu. Aku percaya padamu..
Kicauan burung terdengar nyaring, bau embun begitu menyengat
menembus rongga hidungku. Disampingku ada seseorang yang masih tertidur pulas,
pria yang sangat ku kenal, seorang pria bodoh yang dengan begitu bodohnya
menghampiriku, mengenalkanku dengan hal konyol bernama cinta. Ya, aku
menyayangi segala kebodohannya. Aku.. mencintainya.
Ku buka jendela kuil, berharap bisa mendapat kesejukan pagi
di tempat yang baru ku kenal ini.
Tapi mataku seakan tak bisa terima. Bukan hanya mata, aku.. semakin
takut.
Aku bahkan tak bisa melihat matahari, cahayanyapun seolah
enggan menyentuh ranting pohon yang basah itu. Karang yang menjulang tinggi
mengelilingi hutan ini terlalu egois
untuk berbagi kehangatan.
Setelah beberapa hari disini, ketakutanku semakin bertambah,
kuputuskan untuk kembali, kembali pada kehidupan sebelum ini. Dimana ada
kebisingan orang-orang, kakacauan disetiap sudut kota, dan segala bentuk
masalah lainnya.
Tapi memang itulah yang seharusnya dijalani, kita mencari
kedamaian, tapi kita melupakan kebahagiaan.
Aku selalu ingin hidup bersamamu, tapi bukan seperti ini
yang aku harapkan.
Kau melupakan kehidupanmu,
Kau melupakan kebahagiaanku..
Langganan:
Komentar (Atom)
Daftat Bacotan Gue
Pengikut-Pengikut Gaul
Jumlah Orang yang Nyasar
Profil Artis
- Unknown
Diberdayakan oleh Blogger.
