Hatiku Terlalu Mudah Melambung

Ternyata hatiku melow banget, dengerin lagu ini aja terbangnya sampe venus :'(

Marry Your Daughter | Brian McKnight

 

Sir, I'm a bit nervous
Tuan, aku agak grogi

'Bout being here today
Berada di sini hari ini

Still not real sure what I'm going to say
Masih tak yakin apa yang akan kuucapkan

So bare with me please
Maka bersabarlah

If I take up too much of your time
Jika nanti aku menghabiskan terlalu banyak waktu Anda

See in this box is a ring for your oldest
Lihatlah, di kotak ini ada sebuah cincin untuk putri tertua Anda

She's my everything and all that I know is
Dia segalanya bagiku dan yang kutahu

It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Aku akan sangat lega jika tahu bahwa kami punya pandangan sama

Very soon I'm hoping that I...
Sebentar lagi aku berharap aku....


CHORUS
Can marry your daughter
Bisa menikahi putri Anda

And make her my wife
Dan jadikan dia istriku

I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
Kuingin dia menjadi satu-satunya gadis yang kucinta selama sisa hidupku

And give her the best of me 'till the day that I die, yeah
Dan memberinya yang terbaik dari hingga saat aku mati

I'm gonna marry your princess
Aku akan menikahi putri Anda

And make her my queen
Dan jadikan dia ratuku

She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
Dia akan menjadi pengantin paling cantik yang pernah kulihat

Can't wait to smile
Tak sabar tersenyum

When she walks down the isle
Saat dia susuri lorong

On the arm of her father
Dan menggandeng ayahnya

On the day that I marry your daughter
Di hari aku menikahi putri Anda


She's been hearing for steps
Dia tlah mendengar langkah-langkah

Since the day that we met
Sejak hari kami bertemu

(I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)
(Aku takut sekali berpikir apa yang akan terjadi jika dia pergi)

So don't you ever worry about me ever treating her bad
Maka jangan kuatir aku akan tak baik memperlakukannya

I've got most of my vows done so far
Selama ini aku selalu penuhi janji

(So bring on the better or worse)
(Maka bawalah pada bagian lebih baik atau buruk)

And tell death do us part
Dan katakan kematian memisahkan kita

There's no doubt in my mind
Tak ada keraguan dalam benakku

It's time
Inilah saatnya

I'm ready to start
Aku siap memulai

I swear to you with all of my heart...
Aku bersumpah pada Anda dengan sepenuh hatiku...


CHORUS

The first time I saw her
Pertama kali kulihat dia

I swear I knew that I say I do
Aku bersumpah aku tahu bahwa aku kan bilang bersedia

 

A New Story Named Present



Mozart menumbuhkan bakatnya di usia 5 tahun, membuat minuet kecil pertamanya.
Tiger woods sudah bisa mengayunkan stik golf sebelum usia 2 tahun.
Picasso menyadari bakat melukisnya di usia 9 tahun.
Aku menyadari bahwa aku menyukaimu hanya dalam beberapa minggu. Tidakkah aku jenius?

Memang tak harus memerlukan banyak waktu, sayang. Hanya perlu sedikit membuka hati.
Meski mengenalmu sudah cukup lama, tapi saat itu hati ini benar-benar masih milik seseorang, kukunci rapat sampai tak ada yang bisa mengusiknya termasuk kamu.
Sampai tiba saat kunci itu berkarat dan rusak. Dan semua yang ada didalamnya harus menghilang..
ah sudahlah, aku sudah melupakan rasa sakitnya.

Dari kamu aku telah belajar banyak. Bagaimana caranya menjadi diri sendiri, bagaimana cara bahagia, dan bagaimana cara menyayangi dengan benar. Dan akupun mengerti dalam waktu singkat. Aku memang jenius.

Sayang, aku ingin berterimakasih. Atas semua usahamu yang membuat aku luluh. Yang membuat aku sadar bahwa aku memang pantas bahagia. Terimakasih telah sabar menunggu. Terimakasih telah menjadi dirimu yang benar-benar apa adanya dihadapanku.  Tetaplah seperti itu.

Aku tak mau banyak menuntut. Untuk sekarang dan seterusnya aku cuma ingin kamu percaya. Hatiku kecil dan hanya muat untuk 1 orang. Dan untuk saat ini (semoga seterusnya) hanya ada kamu.

Salam Dari Hujan


Lamunanku tertuju pada balik jendela. Dari cahaya yang masih mampu memantul seolah menuntun mata melihat tetes hujan dengan rintik lirih kesakitan. Serupa mesin waktu, memaksa pikiran melewati lorong yang entah dimana tujuannya. Sampai sadar aku bertemu seseorang. Kusapa dia Lalu, dia berbalik menyapa Kenangan. Mungkin karena mengganggapku sebagai orang yang masih tinggal.
Dia berbeda sekarang, matanya layu, mukanya pucat, hanya senyumannya saja yang masih kuingat. Aku ingin bertanya, mungkin dia juga, tapi lidah kami sama-sama kelu. Akhirnya hanya lewat tatapan kami bercerita.
Dia tahu baik-baik apa yang kusampaikan. Saat dulu itu bukan tentang  kesedihan yang menangisi air mata, juga bukan tentang canda yang menertawakan tawa, hanya belum bisa dibawa takdir jauh-jauh. Bahkan sampai lelah ia menuntun kita. Jadi semua ini salah siapa? Salahku? Mungkin saja.

Aroma pekat menembus indera. Hangat sayupnya mengalir mengikuti saraf-saraf yang mengular, membawa alam sadar kembali ke dimensinya. Dalam pikiran yang kembali terjaga, mari bermain logika sekali lagi. Seputar pertanyaan yang jawabannya hanya ada diam. Bicara tentang sekarang, tak guna ada sesal. Semua yang terlambat memang akan kecewa kemudian pulang.

Aku mundur perlahan, kau maju pelan-pelan. Ini cukup dan pulanglah segera. Ke rumah yang ramai penghuninya. Agar kau tak kesepian. Jangan berpikir aku bajingan, hati ini juga pernah menyepi, saat menyentuh duka yang kau artikan sendiri. Bahkan sampai benar-benar tak peduli berapa banyak orang yang akan kembali mengisi.
Mulai sekarang, belajarlah membangun fondasi hunian hanya untuk yang menjadi masa depanmu saja. Bangunlah sampai penuh, sampai bisa di tempati, jangan hanya setengah kemudian bosan lalu pindah, atau kau akan menyesal sekali lagi.

Dan untuk pertemuan singkat tadi, anggap saja hanya sebuah salam dari hujan.

Di February


Kini, kesedihan telah menemui jalannya.
Ketika aku harus dihadapkan pada kenyataan yang benar-benar menyakitkan. Ketika kau katakan bahwa semua ini tak akan berhasil, sungguh rasanya seperti burung yang terjatuh dari ujung tiang, membuatnya pincang dan tak berdaya. Aku tak menyangka bisa seterpuruk ini, aku tak menyangka ternyata bisa sesakit ini. Aku bukan sedih, hanya belum bisa menghargai takdir.
Aku mengaku kuat, dan dengan lantang berjanji tak akan menangis, tapi aku ingkar. Air mata ini tak mau berhenti mengalir sampai membawaku pada sebuah mimpi yang membuat pikiran ini bertambah kacau. Mimpi tentangmu. 

Dan mengapa aku harus terbangun, kembali mengingat hal yang yang tak pernah aku alami sebelumnya. Kehilangan seseorang ketika perasaan ini sudah terlalu dalam. Ini sulit.. 

Kemarin..
Kau adalah alasan mengapa aku tersenyum,
Kau adalah alasan mengapa aku tertawa,
Kau adalah alasan mengapa aku bahagia,
Tapi sekarang, apa aku masih boleh menjadikanmu alasan untuk tetap tegar?

Bukan bermaksud mempertahankan perasaan ini, aku hanya tak ingin membuangnya. Terlalu berharga semua hal yang pernah kita lewati untuk dilupakan. Aku tak cukup kuat.
Tapi jangan khawatir, aku baik-baik saja, aku bisa cari kebahagiaanku sendiri. Aku sudah ikhlas melepasmu jika ini membuatmu lega. Kau harus bahagia ya! Anggap saja ini permintaanku yang belum sempat aku minta dulu. Untuk yang ini, kau harus kabulkan. :)

Maafkan aku jika selama ini telah membuatmu kecewa, aku tak cukup pintar membahagiakanmu. Aku harap kau akan menemukan orang yang jauh lebih baik dariku. Ya, aku percaya dia orang yang baik. Kejarlah, dia sudah menunggumu. Kalian terlihat cocok satu sama lain.

Terimakasih karna telah memberiku kesempatan bisa memilikimu, bisa merasakan hangatnya pelukanmu, dan genggaman tanganmu yang selalu bisa menenangkanku. Terimakasih.. :’)

Aku hanya butuh proses untuk menerima semua ini. aku janji tak akan lama. Tapi bolehkah aku berdiri disini, membawa bayanganmu yang selalu bisa membuatku semangat?
Bolehkah aku memandangmu dari jauh seperti yang biasa kulakukan dulu sebelum kita bersama?





Malam Ini

Selamat malam..

Kau tau? Disini malamnya terasa lebih gelap, hujan deras juga sepertinya ingin mengubah malam ini menjadi semakin mengerikan.
Sudah empat hari ini sayang, setiap malam pasti mati listrik :(

Malam ini aku ditemani sebatang lilin kecil, entah mengapa situasinya membuatku menjadi sangat merindukanmu. Mungkin karena aku sedang mengeluh pada petugas penerangannya, aku jadi ingat kamu, aku kangen.. Malam ini kau sedang apa? kau sehat kan? :')

Sayang, andai malam ini kau ada disini, pasti dinginnya tak berani menyentuhku.
Kau dimana? Apa kau kedinginan juga?
Semoga tidak..

Sayang.. dulu kamu pernah bilang ingin bekerja disana kan? Itu impianmu kan?
Semoga berhasil yaa.. :)
Kau harus berhasil masuk kesana dan bekerjalah baik-baik, pastikan jangan sampai mati listrik lagi disini :)

Aku selalu mendoakanmu.
Kejar mimpimu ya.. SEMANGAT!! :) :)




Peti Istimewa


Dari awal kau telah menempati peti istimewa itu. Peti yang berdinding kesabaran, cinta dan kasih sayang. peti itu lalu kuletakkan di tempat yang tak kalah istimewa bernama hati. Tapi kurasa semakin lama kau merasa semakin tak nyaman berada di dalamnya. Kau seperti ingin keluar tapi tak mau jika harus merusak engselnya. Meski suaramu tak dapat  menembus dinding peti itu, aku tetap bisa mendengar kau berteriak di dalam. “keluarkan aku!” ya, itulah yang kudengar

Aku tak sanggup jika aku yang harus membukanya. Aku belum siap jika harus kehilanganmu, lebih tepatnya ‘tak pernah siap’.

Sayang, aku tau kau menginginkan peti yang lebih indah itu. Maka keluarlah, aku tak pernah mengunci peti ini, aku hanya tak cukup kuat untuk membukanya. Tolong jangan tunggu atau paksa aku mengeluarkanmu, karna aku tak sanggup.

Jujur saja, jika kau keluar, aku pasti akan sangat kesakitan, petiku akan kosong. Dan mungkin akan tetap kosong untuk waktu yang lama setelah kau tinggalkan. Karna sangat sulit untuk mengikhlaskan orang lain mengisinya. Aku hanya ingin kamu yang berada didalam. Bukan orang lain.

Tapi sayang, jika memang kau benar benar ingin pindah, baiklah.. aku tak ingin menahanmu. Aku tak ingin jika kau tak bahagia hidup di dalamnya, karna yang paling ingin kujaga adalah kebahagiaanmu.

Akan kucoba untuk tegar. Sesakit apapun aku akan menahannya.

Kejarlah peti yang kau ingikan itu, dapatkanlah!

Tapi aku mohon, jangan pernah kau membenci petiku ini, yang mungkin telah membuatmu sesak berada di dalam. Walaubagaimanapun kau pernah memasukinya, pernah merasakan kenyamanannya. Jadi jangan lupakan. :’)

Jika kau telah berhasil keluar  dan mendapatkan kebahagiaanmu disana aku akan ikut senang meski hatiku mungkin tak akan berhenti menangis.

Jangan Benci Aku


Aku mencintaimu, tapi selalu gagal membahagiakanmu.
Aku menyayangimu, tapi untuk selalu  bisa berada disampingmu ketika kamu butuh,aku tak sanggup.
Aku merindukanmu, tapi raga ini tak pernah mampu memelukmu ketika kamu merasakan hal yang sama.

Mungkin kamu bosan mendengar kata maafku, tapi kumohon kepercayaanmu , aku selalu tulus akan itu.Dan jangan lagi merasa kamu adalah orang paling bodoh. Karena aku lebih bodoh darimu. Buktinya untuk mengembalikan senyummupun aku selalu gagal.

Maaf jika aku hanya bisa memperburuk keadaan. Tapi aku mencoba untuk tetap disini, aku masih ingin disini, tak kemana-mana, karna aku masih berharap akulah tampat yang kau cari jika suatu saat kau membutuhkan bahu untuk bersandar dan mencari ruang untuk bercerita

Hanya perlu kamu tau, disetiap kesalahnku sama sekali tak ada yang kuniati, tak pernah terbesit seperjuta  katapun untuk membuatmu sedih.  Kamu bahkan sudah terlanjur memiliki ruang yang paling luas dan terbaik di bilik hati ini, yang membuat aku semakin khawatir kehilanganmu.  Membuatku berfikir akan seterpuruk apa bila jatuh. Aku takut, tapi aku juga tak mau berjuang untuk mengurangi sedikitpun dari rasa ini, rasa yang sudah tak bisa kau tawar lagi, rasa yang lebih agung dari cinta, lebih dalam dari sayang, dan lebih menjerat dari rindu.

kupanggil namamu lirih lewat sebuah doa, membiarkan malaikat meniupkannya bersama desiran angin kasat mata untuk menyampaikannya padamu. Bisa kau dengar aku?

Kadang aku menghayalkanmu, memikirkan hal baik yang dapat kita lakukan teryata menjadi momen terbaikku saat menikmati secangkir kopi yang ku racik sendiri. Aku berharap kau adalah cangkir kopiku, aku berharap bisa meracikannya untukmu dan aku berharap kita selalu bisa menikmatinya bersama di setiap sore di masa nanti.

Kamu adalah sebab  disetiap akanku, kamu adalah untuk  disetiap dariku, kamu adalah karena disetiap makaku, dan kamu adalah alasan di setiap tujuanku.

Jika kamu masih menyayangiku, tolong katakan, karena aku membutuhkannya.
Kalimat ‘aku menyayangimu’ tak sesederhana keinginanku untuk kau bisa mengucapkannya padaku. Setidaknya kalimat itu bisa mengurangi kecemburuan yang bahkan tak berani kuungkapkan. Setidaknya kalimat itu bisa membuktikan bahwa kau tak membenciku.

Sekali lagi maaf, untuk semua hal bodoh yang kulakukan, untuk semua kesedihan yang tak bisa kuubah menjadi tawa, dan untuk setiap kekecewaan yang tak sengaja tercipta.

Tolong jangan benci aku..

Meskipun dunia menyalahkanku,
Tolong jangan benci aku..

Bukan Ini


Kau memandangku begitu dalam tanpa kata-kata, terlalu hening sampai suara nafasmu bisa ku dengar.
Tak butuh waktu lama berada dalam kecanggungan itu karena kurang dari 6 detik kau telah meraih tanganku, menggenggamnya erat tanpa melepaskan pandanganmu dari mataku. Semakin erat…

Kau mengajakku berlari seolah  kau tau aku tak bisa menolaknya. Kita mulai berlari, tapi aku berlari dalam kebingungan. “Ada apa ini?” pertanyaan itu berputar mengelilingi otakku sedari tadi, syaraf-syarafnya berusaha mentransfernya kemulutku. Tidak, hanya sampai ke kerongkongan, lidahku tak mampu mengataknnya. Baiklah aku diam, lagipula itu yang selalu kulakukan.

Aku berani bertaruh  kau bisa membaca fikiranku. Dalam perjalanan kau katakan semuanya. Kau bilang akan mengajakku ke sebuah kuil di dalam hutan, kita akan hidup disana berdua tanpa khawatir ada orang yang mengusik kita, mereka tak akan menemukan kita. Aku berfikir itu akan sangat menyenangkan, seperti mimpi dan kaulah yang menjadikannya nyata.

Kita berlari semakin cepat, entah sudah berapa jauh, tapi bukankah ini terlalu jauh?
Aku lelah..

Tapi keyakinanku semakin besar padamu. Disetiap aku ingin menyerah, kau (masih) menggenggam tanganku semakin erat, seperti energi dari tanganmu perlahan mengalir melewati nadiku, dan itu memberiku cukup kekuatan untuk terus berlari, begitu seterusnya..

Kini kita telah berada di mulut hutan, kau menyuruhku berbalik, ku kedipkan mataku beberapa kali untuk memastikan apa yang ku lihat, tepat di depanku adalah sebuah jurang, sangat dalam.. di sekelilingnya ada batu yang amat tinggi,entahlah.. aku tak yakin itu karang. Sekarang aku mengerti maksudmu, sangat mustahil orang bisa menemukan kita disini. Aku sendiri tak yakin bisa kembali atau tidak. Aku lupa jalan pulang..

Kau beri aku penawaran, ingin melanjutkan perjalanan atau istirahat. Sekali lagi kau menggenggam tanganku erat, aku memilih kembali berlari.

Seperti dalam dongeng putri dan pangeran kamipun sampai di kuil sederhana, berharap sejuta kedamaian ada disana.
Tapi entah kenapa kali ini berbeda,aku khawatir, dan genggaman tanganmu tak dapat menyembunyikannya. Kau beralih memelukku, memberiku ketenangan semampumu. Aku percaya padamu..

Kicauan burung terdengar nyaring, bau embun begitu menyengat menembus rongga hidungku. Disampingku ada seseorang yang masih tertidur pulas, pria yang sangat ku kenal, seorang pria bodoh yang dengan begitu bodohnya menghampiriku, mengenalkanku dengan hal konyol bernama cinta. Ya, aku menyayangi segala kebodohannya. Aku.. mencintainya.

Ku buka jendela kuil, berharap bisa mendapat kesejukan pagi di tempat yang baru ku kenal ini.
Tapi mataku seakan tak bisa terima. Bukan hanya mata, aku.. semakin takut.
Aku bahkan tak bisa melihat matahari, cahayanyapun seolah enggan menyentuh ranting pohon yang basah itu. Karang yang menjulang tinggi mengelilingi hutan ini terlalu egois  untuk berbagi kehangatan.
Setelah beberapa hari disini, ketakutanku semakin bertambah, kuputuskan untuk kembali, kembali pada kehidupan sebelum ini. Dimana ada kebisingan orang-orang, kakacauan disetiap sudut kota, dan segala bentuk masalah lainnya.

Tapi memang itulah yang seharusnya dijalani, kita mencari kedamaian, tapi kita melupakan kebahagiaan.
Aku selalu ingin hidup bersamamu, tapi bukan seperti ini yang aku harapkan.

Kau melupakan kehidupanmu,
Kau melupakan kebahagiaanku..